Kwatrin tentang teh poci
Di gelas tak bernama itu
Kembali kutatap dingin wajahmu
Mataku takkan tertipu, ketika
Segalanya jadi begitu beku
Apalagi yang bisa kau perbuat
Selain menebus dahaga?
Segelas es teh yang kelak meleleh
Dan kita membikinnya basi/asing.
yogyakarta, 6 desember 2011
*catatan : berhubung estetika kuliner sedang merebak di ranah puisi, maka seri puisi gila pun tak mau ketinggalan tren. siapa tau ada koran nasional yang melirik, kan siapa tau...
0 komentar:
Poskan Komentar