Bunga Negeri Alhambra
(sebuah prosa temuan bagi Algar Mahesa dan Wahyu Luhana Deviantia)
Syahdan di suatu negeri yang jauh di seberang pulau, dimana burung-burung tak lagi dapat terbang dan ikan-ikan justru hidup di darat. Hiduplah seorang pangeran Alma yang sepanjang hidupnya tak henti mencari pelabuhan hati, seperti halnya Asoka yang selalu haus kuasa pangeran alma setiap hari berjibaku untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di sekitar negerinya, dan tanpa belas kasihan ia menghancurkan benteng-benteng pertahanan lawan dengan pedangnya. Ia adalah seorang panglima perang yang tangguh sekaligus seorang pengatur pemerintahan yang baik di negerinya, sekalipun setiap hari ia berada di medan peperangan ia tak pernah melupakan kesejahteraan rakyat di negerinya. Telah dibangunnya pasar-pasar untuk berjual beli, dibangunnya pula sekolah-sekolah untuk anak-anak, dan satu lagi ia juga membangun pusat kebudayaan di negerinya untuk mempersiapkan catatan sejarah peradaban mereka.
Sekian tahun setelah pemerintahan pangeran Alma, wilayah negerinya semakin luas dan rakyatnyapun semakin sejahtera. Setelah menaklukan kerajaan-kerajaan lain ia tak lantas menjadikan rakyat-rakyat dari kerajaan tersebut sebagai budak, namun ia memperlakukan mereka sama halnya dengan rakyat di negerinya. Membangun pasar dan menyekolahkan anak-anak mereka. Itu semua karena ketulusan dan wibawa seorang pangeran Alma hingga oleh rakyatnya ia dijuluki sebagai pangeran Mahesa Jenar. “aku selalu teringat pesan ibuku untuk selalu mencintai rakyatku melebihi mencintai diriku sendiri” kata pangeran alma.
Pangeran Alma sudah 10 tahun memimpin negeri itu, namun ia tak juga memiliki pendamping hidup yang menjadi permaisurinya. Hidupnya selalu dilanda kesepian dan kegundahan. Bahkan ia sudah kehilangan semangat untuk menaklukan kerajaan-kerajaan lain, setiap senja tiba ia hanya memandangi langit jingga yang pelan-pelan menelan mataharinya. Sang patih Satya Wibawa pun turut iba memikirkan kondisi sang pangeran sekaligus khawatir kalau-kalau imbas dari kegalauan sang pangeran akan sampai pada rakyatnya. Maka ia memberanikan diri untuk menanyakan musabab pangerannya menjadi gundah.
“adakah sesuatu membuat pangeranku menjadi gundah?”
“tidak patihku, aku hanya merasa lelah saja”
“maaf pangeran, bukannya hamba lancang. Tidakkah pangeran membutuhkan seorang pendamping hidup? Untuk menampung segala lelah dan resah”
“barangkali demikian, tapi selama ini aku belum menemukan seorang perempuan yang tepat”
“bagaimana kalau kita membuat sayembara saja untuk mencari perempuan tercantik di negeri ini?”
“apalah gunanya perempuan tercantik patihku, kalau ia tak bisa menampung segala resahku. Aku butuh perempuan seperti Sharazade”
Sang patihpun semakin tak mengerti bagaimana harus membahagiakan sang pengeran, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengajak pangeran Alma berjalan kaki mengelilingi negerinya. Selain untuk melihat-lihat kondisi rakyatnya, ia juga berharap suatu ketika pangeran dapat bertemu seorang perempuan yang dapat membuat pangeran Alma jatuh hati. Di pasar negeri, pangeran Alma mendapat sambutan yang meriah dari rakyatnya bahkan penjual-penjual buah pun menawarkan pada pangeran buah-buah anggur yang bulat-bulat besar, ada juga yang menawarkan manisan-manisan namun pengeran hanya diam saja. di taman negeri, orang-orangpun bergembira menghabiskan hari minggu mereka, namun sang pangeran hanya memandangi kuntum-kuntum bunga yang baru menguncup.
Di sekolah-sekolah yang ia kunjungi, anak-anak kecil begitu riang menciumi tangan sang pangeran, bahkan ada yang memberinya sebuah lukisan. Namun perhatian pangeran Alma justru tertuju pada seorang guru perempuan di sekolah tersebut, ketika ia datang guru itu sama sekali tak menghiraukan pangeran Alma. Ia malahan begitu asik mendongeng di hadapan murid-muridnya yang membuat sang patih marah dan menegurnya.
“hey, apakah menurutmu seorang guru memiliki derajat lebih dari seorang pangeran?”
“apalah gunanya pangeran yang hanya bisa menghancurkan kerajaan-kerajaan kecil?”
“lancang sekali kau” patih Satya Wibawa mencabut pedangnya dan bersiap menebas leher perempuan tersebut
“tunggu!” teriak pangeran menghentikan sang patih
“kenapa pangeran? Ia telah lancang menghina pangeran?”
“ia benar patihku, seorang pangeran tak ada apa-apanya dibanding seorang guru. Ia bisa mencerdaskan rakyatku”
Berharap mendapat respon baik dari guru perempuan tersebut, sang pangeran justru tak habis pikir mengapa si perempuan justru ngeloyor pergi meninggalkan sekolah tersebut. Sang pengeran kembali ke istana dan hingga berhari-hari ia tak dapat tidur memikirkan perempuan tersebut. Setiap malam selalu terngiang bagaimana perempuan tersebut mengucapkan kata pangeran. Ia baru sadar bahwa perempuan tersebut tak demikian lancar mengucap kata yang memiliki huruf “r”, ya perempuan itu ternyata cadel. Maka ia memerintahkan pada patihnya untuk mencari perempuan tersebut dan membawanya ke istana. Setiap perempuan cadel di negeri tersebut telah didatangkan ke istana, tapi tak ada diantaranya guru perempuan tersebut. Segala bentuk pencarian tak membuahkan hasil. Hingga sang pangeran turun tangan sendiri untuk mencari perempuan tersebut ke sebuah pasar, dan tiba-tiba ia mendengar seorang pembeli di sebuah kios buah.
“tuan aku ingin membeli wokhrtel ini”
Sang pengeran terkejut dan langsung memburu perempuan itu, namun teryata perempuan itu lebih cepat bergegas pergi. Sang pangeran mengejarnya bersama para prajurit pengawalnya hingga perempuan itu memasuki sebuah rumah yang sudah demikian rusak. Sang pangeran pun mencoba masuk, namun pintu itu telah terkunci. Dan seorang prajurit menendangnya hingga terbuka. Di dalamnya ada seorang lelaki tua yang tengah terbaring di ranjang. Dan perempuan itu bersembunyi di dapur. Mata pangeran terbelalak melihat lelaki tua yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
“ra..ra..ja.. Alhambra?”
Perempuan itu keluar dari persembunyiannya dengan membawa sebuah pisau “jangan kau bunuh ayahku! Apa kau belum puas telah menghancurkan kerajaan kami?”
“aku tak bermaksud membunuhnya, ja..ja..di kau adalah putri dari kerajaan Alhambra??”
“ya, aku adalah putri dari kerajaan yang telah kau hancurkan”
Ternyata sang pangeran telah lalai ketika dahulu ia menaklukan sekian banyak kerajaan. Ia tak pernah berpikir bahwa kerajaan yang ditaklukannya adalah kerajaan yang damai, yang akhirnya kini justru merubah kehidupan rakyatnya. Bahkan seorang putri raja yang dulu kaya, kini harus mengabdikan diri menjadi seorang guru di sebuah sekolah dan tinggal di rumah yang hampir roboh. Sang pangeran berlutut menyadari kesalahannya.
“maafkan aku tuan putri”
“tak semudah itu pangeran, tidakkah kau melihat ayahku yang telah sakit-sakitan ini? Ciumlah kakinya terlebih dahulu, dan kembalikan apa yang jadi hak kami”
“baiklah, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku begitu mencintaimu”
Setelah kembali ke istana, akhirnya sang pangeran memutuskan untuk melepaskan kembali kerajaan-kerajaan yang pernah ditaklukannya termasuk kerajaan Alhambra. Kemudian ia datang ke kerajaan alhambra untuk meminang putri Alhambra yang jelita. Namun sang putri mengajukan syarat
“tak semudah itu kau dapat meminangku”
“aku bersedia melakukan apapun demi menunjukkan cintaku padamu”
“buatkan aku sebuah sajak yang dapat menyentuh hatiku dan rakyat-rakyatku!”
“baiklah, tapi beri aku waktu 3 minggu. Maka akan kuselesaikan sebuah sajak untukmu, cintaku”
Sang pangeranpun kembali ke istana dan memerintahkan pada patihnya untuk mengumpulkan seluruh penyair yang ada di negerinya untuk mengajarinya menulis sebuah sajak, dua minggu berlalu namun di negeri tersebut ia tak mendapat seorangpun penyair yang berbakat. Ia teringat pada seorang sahabatnya sewaktu kecil yang pergi mengembara ke negeri Yajna Jiva untuk mempelajari seni falsafah hidup. Maka sang pangeranpun menyusulnya dan meminta untuk mengajarinya menulis sebuah sajak. Selama seminggu penuh sang pangeran berkutat dengan buku di negeri Yajna Jiva hingga akhirnya ia berhasil menulis sebuah kalimat, sebuah kalimat saja bukan sebuah sajak. Dengan semangat yang mengendur, ia kembali mendatangi kerajaan alhambra untuk menemui tuan putri.
“tuan putri, maafkan aku yang tak dapat menepati janjiku.”
“apa maksudmu?” putri cadel cemberut
“aku gagal menyelesaikan sebuah sajak, hanya sebuah kalimat saja yang berhasil kutuliskan”
Tuan putri nampak sedih. Namun di sisinya sang raja Alhambra menyuruh sang pangeran membacakannya.
“bacakanlah pangeran, barangkali kau telah berhasil menulis satu kalimat yang mendalam”
“terima kasih raja, aku akan membacakannya segera” sang putri nampak kembali bersemangat ketika patih menyerakhan sebuah gulungan kertas pada sang pangeran. Kertas itu bertuliskan “kuncup bunga teratai takkan sanggup menggapai bulan, kecuali pada pantulannya di permukaan kolam”
“putriku, apa menerima pinangan sang pangeran?” tanya raja Alhambra
Sang putri tersenyum, terharu “baginda tentu tahu jawaban hamba”
Yogyakarta, 28 september 2011
0 komentar:
Poskan Komentar