Di kamar ini pohon-pohon tumbuh dari kepala
Ketika cahaya matahari menembus celah retak pada dinding
Dan warna-warna cat yang mengelupas terkena lembab udara
Terbang bagai puing-puing kenangan
Separuh hari kuhabiskan begitu saja dalam kamar ini
Sebab tak juga urung selesai hutan-hutan tropis kujelajahi
Kucari desir namamu dan nafasmu pada dedaunan
Akar-akar pohon berserakan menyamarkan desis ular derik
Yang diam-diam melingkar menunggu mangsa
Dalam kamuflase ia mengajakku merencanakan percakapan
Seandainya kutemukan dirimu dalam labirin sunyi
Bicaralah soal awan, hujan, langit atau apapun
Tapi jangan sekali-kali kau mengajaknya berbicara soal kerinduanmu
Sebab lelaki pantang berkeluh soal hati
Kasur dan bed cover terus menerus lusuh tanpa tersentuh
Dinding kamar terus membisu meski celah retak menganga
Bagai mulut naga muda lapar atau siap menjerit
Melengking bagai suara clarinet di gereja musim dingin
Setelah pada musim sebelumnya
Daun-daun gugur dengan sukarela
Dan hanya menyisakan ranting-ranting kering
Menyerupai belulang manusia yang tak lagi tersusun rapi
Siang ini hendak kutelusuri kelelakianku dalam ranjang usang
Kuharap dapat menemukan dirimu tengah meringkuk pulas tertidur
Lalu akan kubangunkan perlahan
Kuusap keningmu, kubelai rambutmu dan kubisikkan kalimat cinta
Memanggil namamu hingga kau membuka mata
Lalu akan kita amati cahaya matahari menembus dinding kamar ini
Melalui celah retak yang serupa mulut naga muda
Bagai istirah di antara taring-taringnya
Pohon-pohon di kepala terus tumbuh melebihi atap
Daun-daunnya yang mulai mengering kecoklatan
mulai jatuh bagai potret musim gugur di negeri utara
kita telentang berdua di bawahnya
menikmati desir angin dan semburat matahari
siang ini kutemukan kelelakianku pada dirimu
kekasih sepanjang waktu
di kamar ini, kupunguti daun-daun
bagai kupunguti potongan-potongan cinta kita yang berserakan di dalamnya
lalu kuselipkan pada setiap lembar ayat suci
agar senantiasa kita tumbuhkan do’a bagai pepohonan yang meninggi di kepala
meski daun-daunnya akan kembali jatuh pada lantai kamar
untuk memaksa kita mengulang ritual yang sama
setiap musim bercinta ini tiba.
Yogyakarta, 6 desember 2010
0 komentar:
Poskan Komentar