sugeng rawuh

Jumat, 28 Januari 2011

Gisting

: laurencia ester wijaya

Amoy, amoy. Kibaran angin pegunungan menerbangkan arwah batu-batu purba, ketika mereka datang ratusan tahun silam bersamaan dengan laskar-laskar perang dan kapal-kapal dagang tiongkok. membawa batu giok yang bila digosok pada kain satin akan semakin mengkilap.

“Amoy…amoy…, hendak kemana kalian?” Mereka berjalan menuruni bukit sambil menuntun sepedanya, sebab jalan menurun terlalu curam.

Di lembah-lembah, para mekhanai memaguti pohon-pohon kelapa dan memanggul bumbung-bumbung berisi nira. “nyak hendak menuju pasar”

“niku na hendak mati?” katanya berjalan seorang diri, semakin jauh dari tanah kelahiran. Menetap di puncak bukit. Di dataran tinggi ini, kibaran angin pegunungan menerbangkan arwah batu-batu purba.

Pusaraku terbangun sudah, pada batu nisan ini tuliskanlah sebuah prasasti, sebuah cerita dari masa pelayaran hingga kapal-kapal dagang dan laskar-laskar perang melego jangkar di dermaga teluk ini. Dan berbagai transaksi mulai dilakukan.

Yogya, 2010

0 komentar: