sugeng rawuh

Sabtu, 04 Desember 2010

Pada Sebuah Taman

Kepada Cecelia A. Puspita

Aku ingin mendengar kicau burung-burung pagi
Aku ingin merasakan getar lagu daun-daun jatuh
Di taman ini, fajar demikian gugup demikian gagap
Lahir dan beralih begitu saja tanpa meninggalkan apapun
Kecuali dingin udara dan lembab tetes embun mengendap
Pada bangku-bangku kayu tanpa pernah tahu
Siapa yang telah kuasa memilikinya

Musim semi hadir dalam penantianku
Membayangkan pohon-pohon tumbuh dari anganku
Lumut-lumut mulai merambat dari celah dinding
Mengalir dalam darah menuju setiap ruang dalam rongga dadaku
Lalu mulai kurasakan sejuk udara menjalar
Ke seluruh tubuh bagai kuntum bunga yang jatuh pada alir sungai
Di taman ini, hanyut dan berkelok mengikuti arus
Yang tak pernah dapat kita terka dimana ia akan tertambat

Kau adalah musim burung-burung bernyanyi
Kau adalah musim yang menanggalkan bunyi daun-daun jatuh
Di jalanan, mobil-mobil bergegas melaju dalam kecepatan tinggi
Sesegera mungkin meninggalkan kota dingin ini
Mereka tinggalkan rumah-rumah yang tak lagi memberi cahaya
Dan bangku-bangku taman telah ditumbuhi jamur
Tinggal bangku yang kita duduki ini, yang memberi sisa kehangatannya
Sebelum jamur diterbangkan angin musim dingin kemari
Segera kemasilah seluruh angan dan ingin yang merebak dalam benakku
Lalu masukkan dalam koper yang tentu kau tahu
Kemana akan kau buang kuncinya.

Yogyakarta, 2 desember 2010