Dan Waktu, Batu
Sungguh, tanganmu mengepal serupa waktu. Menghapus segala kenangan dari sebuah gunung batu, barangkali telah benar kau lupakan semua cerita yang kau tulis sendiri di dinding batu halaman rumahku?, tidakkah semua itu rekaman dari cerita percintaan kita yang tak dikekalkan angin, apakah ini sekedar retak pada sebuah cangkir yang disuguhkan pada perjamuan malam minggu. Kalimat-kalimatmu kusimpan dalam buku harian, tersebab cinta maka kuendapkan saja biar jadi puisi. Tentang semua rindu, tentang semua kasih, tentang semua pelarian dalam diri kita.
Cukup lama, waktu yang kubutuhkan untuk benar melupakanmu. Angin yang setiap senja mengirim bau tubuhmu dan membawa setitik kabar dari sekedar pasir atau buku harian yang tanpa sengaja terbuka. Sungguh, aku membutuhkan waktu yang begitu keras menghantam gunung batu. Sebab semua cerita di tubuh batu telah terkikis oleh rintik gerimis yang tak mampu memberi apapun. Lihatlah pada bibir laut, ketika ombak menghempas balik perahu nelayan, juga mengoyak kapal penyeberangan di tanjung barat.
Sungguh, tanganmu mengepal sekeras waktu. Melebihi batu.
Kirimkan Lukamu Pada Tubuhku
Kirimkan lukamu pada tubuhku,
Sebab rindu kian hari kian larut
Di jelaga malam
Pekat serupa riak pada gelas kopi
Di kedai milik pak busu
Atau sandarlah di batang pohon kelapa
Di kebun belakang rumah
Sambil kau nikmati pemandangan
Hamparan hutan di pegunungan
Yang menjulang dari utara ke selatan
Mengalirkan anak-anak sungai
Seakan riuh menggoda
Dedaunan di lembah yang ia lewati
Kirimkan lukamu pada tubuhku
Sebab hari terkikis sepi
Pada dinding depan rumah
Yang baru kita tinggali
Rambutmu terurai lepas
Menepis segala keinginanku selama ini
Pun kau tak lagi memiliki ingatan itu.
Puisi Kematian Kupu Macan
Pagipun tak lagi sunyi...
Kabut riuh di antara tiang-tiang listrik berjajar
"rona hidup yang mana?
Yang membawa akal
Dari watak budi pekerti"
Bocah-bocah sekolah
Yang bangun pagi, berseragam merah putih
Lalu berangkat jalan kaki
Bergerombol memenuhi jalanan
"Adakah yang sanggup
Membangun sejarah menjadi
Tak sekedar kenangan"
Apakah topi-topi, dan
Dasi-dasi merah hati pada barisan
Upacara bendera mampu mencipta hari senin yang baru
"ia mati, mungkin menampik derita
Dari kebohongan sahabat karibnya"
Orang tua yang memberi uang saku
Demi membiak angan akan jajanan
-pada sebatas angan, mimpi
dan
"mainan-mainan kini, adalah
Ibu tiri yang membelai dengan jari-jari
Berkuku tajam"
Sebab bukan gedung, ataupun kursi
Dan meja yang berjajar itu
Yang benar mereka ingini
Maka, kaburlah mereka lewat jendela
-Yang dibiarkan terbuka
http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=49075:puisi-dwi-s-wibowo&catid=45:kalam&Itemid=69
0 komentar:
Poskan Komentar