sugeng rawuh

Sabtu, 16 Oktober 2010

Puisi Saia di Bali Post

Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
:cahya gemilang

DI UFUK BARAT. Senja tlah datang dengan membiaskan jingga pada prmukaan air, dari semburat di celah awan. Hari ini cuaca cerah. Langit mendung tak datang untuk menyambut bulan kelima belas. Di negeri Cina, seorang ksatria bernama ng memanah delapan matahari bersamaan. Langit kembali.



Debur ombak mengantar kail nelayan kembali ke tepian buih, anaknya menyulam jala di atas gundukan pasir depan rumah. Ayah tak kunjung pulang, sementara ibu masih sibuk mengupas kulit kerang di belakang rumah, dan adik menangis selah mimpinya jatuh ke lantai pasir.



Bethara bayu sementara ini belum merasa lelah untuk mengibarkan panji-panji yang terkait pada menara kayu pingir pantai. Rumput duri lari cepat menjauh ombak, menggilas liang tempat seekor kepiting laut bersembunyi dari terkam pemangsanya. Dan seorang anak petani menggembalakan sapinya di bagian pantai yang tumbuhi rumput halus. Tapi tidak dengan ayahnya yang masih suntuk menanti hujan di pucuk tebing.



Laut sebentar lagi pasang, beberapa pria dari kampung nelayan sebelah tampak mengusung perahunya menuju air. Bersiap untuk segera melaut, di ujung tiang layar perahu tlah terpasang setangkup sajen dan beberapa koin logam yang tertancap oleh sebatang paku. Gusti, berikanlah kami tangkapan yang melimpah.



Ombak bergulung semakin tinggi, suara debur terdengar dari kejauhan. Memanggil kembali ingatan yang cukup lama terpendam. Sebuah perahu dan seluruh awaknya tak pernah kembali dari melaut, sampai sekarang. Esoknya, riak di sepanjang pantai mengabarkan berita duka. Sebuah perahu nelayan dihantam badai, lalu entah tenggelam, terbalik atau terdampar tak tahu ke mana. Yang jelas mereka cuma kembali pada waktu istrinya memanjatkan do'a.



Sementara ini belum nampak tanda-tanda kehadiran kala yang mendambakan ratih, memburu dan mendekapnya erat. Tiga bidadari turun ke pantai, menyerahkan raga pada sukma sebagai persembahan. Dimulailah upacara malam ini. Bola-bola api bertentangan menuju angkasa. Dan gempita disana membawa mitos tentang garuda atau tentang kekuatan wisnu yang terpisah.



Seekor kerbau dan sebilah belati telah dikorbankan untuk kemudian dilarung bersama beberapa ikat bambu. Mengantar jiwa pada keabadian, sekali lagi riak menepi untuk menjemput raga dan menelannya mentah-mentah di lumat gelombang.

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=18&id=43411

0 komentar: