sugeng rawuh

Jumat, 06 Agustus 2010

puisi saia di jurnal bogor

Pesan Buat Yan

Yan, coba kau dengarkan.

ada derit pintu menyanyi sumbang di panggung terbuka.
lalu ia pergi ke tempat sepi untuk menangisi kematian ibunya.
ia kasihan.
Lalu mengapa temannya tak lekas kembali?
Juga saudaranya.

Kemudian lilin lilin datang dengan membawa sedikit cahaya
Yang redup seolah turut menangis
Namun,
Ia justru membuat bayangnya menari

Biar kunang ikut sedih dengan kelip cahaya
Yang terselip di antara rumpun ilalang
Bunga rumput yang tertinggal.
Tempat beberapa lembar sayap kupu tinggal untuk bermalam
Sampai pagi menjelang
Dan semua telur mereka menetas
Menjadi ulat ulat kecil
Di pucuk daun.

Seperti masa kecil dulu,
Kita bermain air di telaga yang sepi
Menyibak air dengan batu mungil
Yang melompat di permukaan.
Lalu pulang dengan kuyup, dan
Kau selalu dimarahi ibumu.
Dan aku yang lari
Saat sepatu milik ibu terbang mengejarku
Merindukan untuk menyentuh pantatku
Dengan sedikit tabokan.
Namun kita tak pernah jera,
Dan esoknya
Kita bermain air lagi di telaga
Sebab kita tak pernah takut
Bila nanti ia yang membawa kita kembali.

Yogyakarata, 27 juli 2009


Mata Dewa

:i dewa
Di mata dewa
Angin tertidur
Sementara, kebiasaan
Bisa saja merontokkan bunga-bunga
Yang tak lagi dijaga waktu
Kapan saja

Berlari, berlari
Ia berlari

Senja hari
Mungkin sebilah bambu,
Jembatan penyeberangan
Atau jalan kabur
Di sebuah kanal
Yang mengalirkan setitik air mata
Yang terpaksa ditiadakan
Dari alis lengkung warna coklat
Sewarna dinding gapura,
pada sebuah pura

“kelak, ada yang tanpa sengaja
Akan digariskan”
Entah pada kelopak
Atau bulu mata yang terlalu renggang

Sepanjang lingkar bola mata
Kerlap-kerlip lampu kota terus terekam
Dalam ingatan seorang bocah
Yang terkikis nalarnya. Hingga
Bunga-bunga kembali siaga
Menanti angin
Yang biasa datang kapan saja
Tanpa tanda, tanpa isyarat.

Yogya, 16 maret 2010

http://www.jurnalbogor.com/?p=115282

0 komentar: