sugeng rawuh

Kamis, 22 April 2010

Dan Waktu, Batu



Dan Waktu, Batu

Sungguh, tanganmu mengepal serupa waktu. Menghapus segala kenangan dari sebuah gunung batu, barangkali telah benar kau lupakan semua cerita yang kau tulis sendiri di dinding batu halaman rumahku?, tidakkah semua itu rekaman dari cerita percintaan kita yang tak dikekalkan angin, apakah ini sekedar retak pada sebuah cangkir yang disuguhkan pada perjamuan malam minggu. Kalimat-kalimatmu kusimpan dalam buku harian, tersebab cinta maka kuendapkan saja biar jadi puisi. Tentang semua rindu, tentang semua kasih, tentang semua pelarian dalam diri kita.

Cukup lama, waktu yang kubutuhkan untuk benar melupakanmu. Angin yang setiap senja mengirim bau tubuhmu dan membawa setitik kabar dari sekedar pasir atau buku harian yang tanpa sengaja terbuka. Sungguh, aku membutuhkan waktu yang begitu keras menghantam gunung batu. Sebab semua cerita di tubuh batu telah terkikis oleh rintik gerimis yang tak mampu memberi apapun. Lihatlah pada bibir laut, ketika ombak menghempas balik perahu nelayan, juga mengoyak kapal penyeberangan di tanjung barat.

Sungguh, tanganmu mengepal sekeras waktu. Melebihi batu.

2009

0 komentar: