Pagipun tak lagi sunyi...
Kabut riuh di antara tiang-tiang listrik berjajar
“rona hidup yang mana?
Yang membawa akal
Dari watak budi pekerti”
Bocah-bocah sekolah
Yang bangun pagi, berseragam merah putih
Lalu berangkat jalan kaki
Bergerombol memenuhi jalanan
“Adakah yang sanggup
Membangun sejarah menjadi
Tak sekedar kenangan”
Apakah topi-topi, dan
Dasi-dasi merah hati pada barisan
Upacara bendera mampu mencipta hari senin yang baru
“ia mati, mungkin menampik derita
Dari kebohongan sahabat karibnya”
Orang tua yang memberi uang saku
Demi membiak angan akan jajanan
-pada sebatas angan, mimpi
dan
“mainan-mainan kini, adalah
Ibu tiri yang membelai dengan jari-jari
Berkuku tajam”
Sebab bukan gedung, ataupun kursi
Dan meja yang berjajar itu
Yang benar mereka ingini
Maka, kaburlah mereka lewat jendela
-Yang dibiarkan terbuka
Yogya, 3 desember 2009
0 komentar:
Poskan Komentar