sugeng rawuh

Jumat, 18 Desember 2009

seri puisi gila #3


Yang Bernyanyi Di Kamar Mandi

Mulan jameela masuk ke kamar mandi
Awalnya cuma ingin buang air kecil
Namun ia melihat microphone yang menggantung
Tiba-tiba timbul niatnya bernyanyi
“aww..aw..aw..ich...ich...” begitu lagunya.

2009

Minggu, 13 Desember 2009

seri puisi gila #2



ambulance

gara-gara sarapan dan minum kopi di hotel terkenal
saya terpaksa masuk ruang ICU sebuah rumah sakit swasta
di jakarta

saya tidak tahu pasti kejadian yang menimpa diri saya
tapi menurut dokter dan suster yang cantik di rumah sakit
dan pernyataan pihak kepolisian di koran dan televisi nasional
ceritanya begini:

Sesesorang telah meledakkan bom di lobbi hotel tersebut,
Ledakkan itu membuat koki yang tengah memasak, kaget dan tanpa sengaja
Mencabut selang kompor gas, dan terjadilah ledakkan kedua
Hingga mengakibatkan semua orang panik dan langsung lari berhamburan
“sialnya, anda terpeleset tumpahan minyak goreng dan jatuh terinjak pengunjung lain” kata dokter, untungnya petugas keamanan hotel segera menyelamatkan saya
Dan memanggil ambulance untuk membawa saya ke rumah sakit.

Suster yang cantik mendekat dan membelai kepala saya
Yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit, kemudian ia berkata begini:
“lebih sialnya lagi, sopir ambulance yang membawa anda tidak memiliki SIM
Dan baru saja seminggu lulus dari kursus menyetir. Naas, karena nyelonong di lampu merah, ambulance tersebut menabrak sebuah konteiner”
Itulah sebabnya saya mengalami gegar otak berat dan kedua kaki saya diamputasi.

2009

Sebab Malam Tlah Berganti Nama

:sarkem

dalam gelap
aku selalu takut
meniti batang bambu
yang berjajar di muka parit

sebab malam tlah berganti nama

maka
melompat ke sisi lain
bisa jadi pilihan pasti
selain mati
tanpa terkuburkan.

yogya, 2009

Minggu, 06 Desember 2009

Seri Puisi Gila #1



SAYA
Nama saya adalah saya

Saya adalah pria dengan penis yang tersesat masuk dalam hutan
Lebat

Dalam hutan ada saya, binatang-binatang, juga pohonan

Saya mencoba menyusuri jalan setapak yang biasa dilewati para pencari kayu bakar untuk menemukan jalan keluar dari hutan, namun semakin lama saya berjalan saya semakin masuk ke dalam rimbun pohonan.

Ranting-ranting yang menjulur
Mencabuki tubuh saya hingga berdarah-darah
Dan menetes ke seresah.

Tiga jam lebih saya menyusuri jalan setapak,
Alih-alih menemukan jalan keluar
Saya justru masuk semakin dalam ke ceruk hutan
Ternyata saya sudah ada di bibir jurang yang dalam

Hujan mulai turun...
saya terpeleset, jatuh ke jurang
Tubuh ini tercebur dalam sungai di dasar
Lalu hanyut terseret arus
Sampai akhirnya saya tersangkut pada akar sebuah pohon
Yang menjulur ke sungai...

“syukurlah, saya masih hidup. Meski tubuh saya terasa lemas”

2009

Jumat, 04 Desember 2009

senja galeria



Senja di galeria,
Aku memandang barikade warna
Yang berjajar menyusun spektrum-spektrum
Dalam lembaran banner
Serta pemandangan yang kutangkap di setiap etalase
Yang memajang berjuta pesona.

Sudah berapa lama mereka begitu.

Kesempatan itu
Kali pertamaku mengunjungi pusat perbelanjaan
Yang mulai ditinggalkan pengunjungnya.
Dulu ia begitu dipuja,
Semua mata tertuju ke arahnya
Puluhan bahkan ratusan gadis-gadis
Setia memamerkan tubuhnya dalam etalase
Untuk mempertontonkan kemolekan yang yang mereka miliki
Demi menawarkan selembar kain
Yang harganya seketika naik saat memasukinya.
Atau demi menarik mata pengunjung
Yang mungkin seusai belanja ingin mengajaknya pulang.
Galeria tinggal galeria,
Di selatan perempatan sagan.

Galeria tinggal galeria,
Ku terlelap sepi di halaman bethesda.

Jogja, 31 Mei 2009

Selasa, 01 Desember 2009

merangkai bunga

Di puncak:
Ratusan bunga bermekaran
Menghias sepanjang perjalanan
Dan di kebun
Bunga tumbuh
Menghias halaman
Mewarnai kehidupan
Si empunya rumah
Aku ingin merangkai bunga
Membingkai kehidupan yang polos
Putih lugu
Dan tanpa arah tujuan.

Di langit:
Bungabunga berwarna putih
Mengalir lewat angin
Terbawa ke senja
Yang merah,
Jingga. Dan semburat
Mengikat bertangkai awan
Merangkai panorama senja
Di langit barat
Di timur,
Lanskap hilang oleh tatapan
Beling yang berkilap

Perempuanperempuan muda
Pulang kerumah
Meninggalkan aroma surga
Yang luluh terpercik air
Di sungai
Tempat mereka mandi
Aku ingin berenang bersama mereka
Tapi di kolam
Yang dipenuhi bungabunga
Melati serta mawar mewangi
Sebelum akhirnya
Sampai ke pelaminan

sementara, di wajah:
bungabunga mekar
menghiasi rona muka
di bawah terang rembulan purnama
dengan diiringi tembang bocah

“lir ilir lir ilir, tandure wong sumilir
tak ijo royoroyo, tak sengguk penganten anyar
cah angon cah angon, penekna blimbing kuwi
lunyulunyu penekna, kanggo mbasuh dodot ira”

Hingga sampai ke laras
Yang tak sempat berujud
Oleh serangkai bunga
Yang hanyut
Di alam malam

Dan kamboja
Menjadi hidup yang kekal
Bila nanti mencium
Aroma surga
Yang luluh di sungai
Di langit.
Pujapuja langit senja
Bungabunga ramai jiwa
Tumbuh memekar
Dirangkai kata
Dan semua mata
Sama.

Yogya, 2009