:asih setyani
Yan, coba kau dengarkan.
ada derit pintu menyanyi sumbang di panggung terbuka.
lalu ia pergi ke tempat sepi untuk menangisi kematian ibunya
ia kasihan.
Lalu mengapa temannya tak lekas kembali?
Juga saudaranya.
Kemudian lilin lilin menari di atas cahaya
Yang redup seolah turut menangis
Tidak,
Justru mereka coba menghibur
Di tengah laranya.
Biar kunang yang ikut sedih dengan kelip cahya
Yang terselip di antara rumpun ilalang
Bunga rumput yang tertinggal.
Tempat beberapa lembar sayap kupu tinggal untuk bermalam
Sampai pagi menjelang
Dan semua telur mereka menetas
Menjadi ulat ulat kecil
Di pucuk daun.
Seperti masa kecil dulu,
Kita bermain air di telaga yang sepi
Menyibak air dengan batu mungil
Yang melompat di permukaan.
Lalu pulang dengan kuyup, dan
Kau selalu dimarahi ibumu
Dan aku yang lari
Saat sepatu milik ibu terbang mengejarku
Merindukan untuk menyentuh pantatku
Dengan sedikit tabokan.
Namun kita tak pernah jera,
Dan esoknya
Kita bermain air lagi di telaga
Sebab kita tak pernah takut
Bila nanti airlah yang membawa kita ke sisinya.
Lihatlah ikan,
Ia hidup di air
Namun sesekali melompat ke udara
Sama seperti kita
Ia tak pernah takut
Bila suatu saat angin membawa ia ke sisinya.
Sebab ia tahu
Sudah ada yang mengatur semua ini.
0 komentar:
Poskan Komentar