Bersandar kata mengatas makna
Diikatnya pada sebait sajak
Tak ada hanya rayuan kini
Di pohon rimbun berbalut rindu
Akan tiba pada waktunya
Ketika lagu dituhankan para dewa
Surya begitu cepat menghilang hari ini
Tiba saatnya kembali mendongeng
Kisah jenaka pengantar lelap
Buat si buyung di pintu malam
Serahkan jiwa sejenak bersama mimpi
Esok pagi, hari baru menanti
Dilukis warna sejuta kisah
Anak manusia bercerita diri sendiri
Selasa, 01 September 2009
Minggu, 23 Agustus 2009
ode bagi hutan
bukan semak
tanpa ada pilihan jalan lain
meski rimbun pohonan
jadi peneduh sepanjang perjalanan
namun akar yang berserak
bersaudara dengan ular
dan kalajengking
daun-daun
satu persatu jatuh berguguran
diterpa angin.
tanpa ada pilihan jalan lain
meski rimbun pohonan
jadi peneduh sepanjang perjalanan
namun akar yang berserak
bersaudara dengan ular
dan kalajengking
daun-daun
satu persatu jatuh berguguran
diterpa angin.
Rabu, 19 Agustus 2009
sajak tanpa nama
buat oshino ester
ini bukan kali pertama kau datang kemari,
sebab beberapa waktu lalu kau sempat bercerita
tentang perjalananmu yang terdahulu.
dulu kau cerita begini:
"dua kali aku berjalan lewat jalanan yang sama,
dua kali itu pula kakiku berdarah sebab menginjak kerikil tajam
yang terhampar di atas aspal."
aku sempat bertanya iseng
"kenapa tak kau pakai alas?"
namun kau hanya tertawa terbahak.
lalu kau lanjutkan ceritamu
"perjalanan ini yang menjadikan aku sosok dewasa,
lewat jalanan ini hanyalah bagian dari proses belajar,
belajar menjalani hidup"
ganti aku yang tertawa
bukan sebab ceritamu, namun tergelitik pertanyaan
"apa mungkin kau lewat jalanan ini lagi?".
ini bukan kali pertama kau datang kemari,
sebab beberapa waktu lalu kau sempat bercerita
tentang perjalananmu yang terdahulu.
dulu kau cerita begini:
"dua kali aku berjalan lewat jalanan yang sama,
dua kali itu pula kakiku berdarah sebab menginjak kerikil tajam
yang terhampar di atas aspal."
aku sempat bertanya iseng
"kenapa tak kau pakai alas?"
namun kau hanya tertawa terbahak.
lalu kau lanjutkan ceritamu
"perjalanan ini yang menjadikan aku sosok dewasa,
lewat jalanan ini hanyalah bagian dari proses belajar,
belajar menjalani hidup"
ganti aku yang tertawa
bukan sebab ceritamu, namun tergelitik pertanyaan
"apa mungkin kau lewat jalanan ini lagi?".
Minggu, 31 Mei 2009
denpasar
:frischa aswarini
kedatanganku haru,
kepulanganku pasi.
aku datang membawa harap akan dirimu yang sebelumnya tak pernah singgah di batinku
dengan beragam keinginan akan sendu langit menari
di bait-bait tembang yang kudengar kala itu
di pendopo itu
tempat pertama kita berjumpa, ketika kuulurkan tangan meminta salam
dan kau sambut dengan senyum. hatiku luluh seketika.
kedatanganku haru,
kepulanganku pasi.
aku datang membawa harap akan dirimu yang sebelumnya tak pernah singgah di batinku
dengan beragam keinginan akan sendu langit menari
di bait-bait tembang yang kudengar kala itu
di pendopo itu
tempat pertama kita berjumpa, ketika kuulurkan tangan meminta salam
dan kau sambut dengan senyum. hatiku luluh seketika.
Kamis, 07 Mei 2009
larungan mimpi
Mengalir sunyi kau teduh sungai ke lautan
Mengantar hulu menyambut debur ombak arah tepi
Berselimut hembus bayu di atas pasir
Memelukmu dingin tanpa dekap
Hanya menghampar sepanjang mimpi-mimpi itu kian kembali
Jogjakarta, mei 2008
Mengantar hulu menyambut debur ombak arah tepi
Berselimut hembus bayu di atas pasir
Memelukmu dingin tanpa dekap
Hanya menghampar sepanjang mimpi-mimpi itu kian kembali
Jogjakarta, mei 2008
Jumat, 20 Maret 2009
puisi baru
padanya
Manusia mati untuk kembali padanya,
Daun gugur untuk kembali padanya,
Bunga layu untuk kembali padanya,
Angin bertiup untuk kembali padanya,
Istana runtuh untuk kembali padanya,
Hujan turun untuk kembali padanya,
Tak terkecuali akupun datang untuk kembali padanya.
Jogjakarta, 6 Desember 2008
Manusia mati untuk kembali padanya,
Daun gugur untuk kembali padanya,
Bunga layu untuk kembali padanya,
Angin bertiup untuk kembali padanya,
Istana runtuh untuk kembali padanya,
Hujan turun untuk kembali padanya,
Tak terkecuali akupun datang untuk kembali padanya.
Jogjakarta, 6 Desember 2008
Jumat, 13 Maret 2009
surat buat yan
:asih setyani
Yan, coba kau dengarkan.
ada derit pintu menyanyi sumbang di panggung terbuka.
lalu ia pergi ke tempat sepi untuk menangisi kematian ibunya
ia kasihan.
Lalu mengapa temannya tak lekas kembali?
Juga saudaranya.
Kemudian lilin lilin menari di atas cahaya
Yang redup seolah turut menangis
Tidak,
Justru mereka coba menghibur
Di tengah laranya.
Biar kunang yang ikut sedih dengan kelip cahya
Yang terselip di antara rumpun ilalang
Bunga rumput yang tertinggal.
Tempat beberapa lembar sayap kupu tinggal untuk bermalam
Sampai pagi menjelang
Dan semua telur mereka menetas
Menjadi ulat ulat kecil
Di pucuk daun.
Seperti masa kecil dulu,
Kita bermain air di telaga yang sepi
Menyibak air dengan batu mungil
Yang melompat di permukaan.
Lalu pulang dengan kuyup, dan
Kau selalu dimarahi ibumu
Dan aku yang lari
Saat sepatu milik ibu terbang mengejarku
Merindukan untuk menyentuh pantatku
Dengan sedikit tabokan.
Namun kita tak pernah jera,
Dan esoknya
Kita bermain air lagi di telaga
Sebab kita tak pernah takut
Bila nanti airlah yang membawa kita ke sisinya.
Lihatlah ikan,
Ia hidup di air
Namun sesekali melompat ke udara
Sama seperti kita
Ia tak pernah takut
Bila suatu saat angin membawa ia ke sisinya.
Sebab ia tahu
Sudah ada yang mengatur semua ini.
Yan, coba kau dengarkan.
ada derit pintu menyanyi sumbang di panggung terbuka.
lalu ia pergi ke tempat sepi untuk menangisi kematian ibunya
ia kasihan.
Lalu mengapa temannya tak lekas kembali?
Juga saudaranya.
Kemudian lilin lilin menari di atas cahaya
Yang redup seolah turut menangis
Tidak,
Justru mereka coba menghibur
Di tengah laranya.
Biar kunang yang ikut sedih dengan kelip cahya
Yang terselip di antara rumpun ilalang
Bunga rumput yang tertinggal.
Tempat beberapa lembar sayap kupu tinggal untuk bermalam
Sampai pagi menjelang
Dan semua telur mereka menetas
Menjadi ulat ulat kecil
Di pucuk daun.
Seperti masa kecil dulu,
Kita bermain air di telaga yang sepi
Menyibak air dengan batu mungil
Yang melompat di permukaan.
Lalu pulang dengan kuyup, dan
Kau selalu dimarahi ibumu
Dan aku yang lari
Saat sepatu milik ibu terbang mengejarku
Merindukan untuk menyentuh pantatku
Dengan sedikit tabokan.
Namun kita tak pernah jera,
Dan esoknya
Kita bermain air lagi di telaga
Sebab kita tak pernah takut
Bila nanti airlah yang membawa kita ke sisinya.
Lihatlah ikan,
Ia hidup di air
Namun sesekali melompat ke udara
Sama seperti kita
Ia tak pernah takut
Bila suatu saat angin membawa ia ke sisinya.
Sebab ia tahu
Sudah ada yang mengatur semua ini.
Langgan:
Entri (Atom)
.jpg)
