sugeng rawuh

Rabu, 14 Desember 2011

seri puisi gila #14

Kwatrin tentang teh poci





Di gelas tak bernama itu

Kembali kutatap dingin wajahmu

Mataku takkan tertipu, ketika

Segalanya jadi begitu beku



Apalagi yang bisa kau perbuat

Selain menebus dahaga?

Segelas es teh yang kelak meleleh

Dan kita membikinnya basi/asing.



yogyakarta, 6 desember 2011



*catatan : berhubung estetika kuliner sedang merebak di ranah puisi, maka seri puisi gila pun tak mau ketinggalan tren. siapa tau ada koran nasional yang melirik, kan siapa tau...

essay

Ora ngapak, dhupak! : Sebuah Upaya Kembali Mengakar Dalam Bentuk

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan seloroh yang biasa diucapkan orang-orang pesisir cilacap untuk meneguhkan identitas mereka sebagai kaum nelayan yang jauh dari entitas kraton sebagai tonggak utama budaya jawa, begini bunyi kalimat yang kerap mereka ucapkan “ora ngapak, dhupak!” artinya kurang lebih begini “tidak bicara dalam logat ngapak, maka akan ditendang” sebuah kalimat pendek yang dirasa cukup menegaskan maknanya.

Barangkali slogan itulah yang membawa badruddin emce-seorang penyair yang notabene lahir dan tinggal di kroya(sebuah daerah di cilacap)- tetap berada dalam identitasnya sebagai seorang yang lahir dan besar di kawsan pesisir cilacap ketika turut serta menulis puisi dalam ranah yang luas. sebagai seorang penyair-yang menulis puisi dalam bahasa indonesia- seharusnya seorang badruddin sadar benar tentang bentuk pusi yang ia tulis, bukan malah justru seolah ingin melupakan prosesnya manulis puisi seperti yang saya tangkap dalam karya-karyanya. Seolah-olah penyair ingin melepaskan diri dari tanggung jawabnya setelah menulis puisi, bahkan ketika ia sendiri mungkin membaca ulang puisi yang telah ditulisnya. Dalam puisi-puisinya kita sebagai pembaca akan dibawa untuk menyelami entitas dunia masyarakat nelayan di pesisir cilacap, namun jangan berharap kita akan mengenal jauh seperti apa laku hidup dan budaya masyarakat di sana, sebab kita hanya akan sebatas dibawa pada kebiasaan-kebiasaan masyarakat tersebut dalam bertutur semata.

Berbeda dengan goenawan mohamad dalam puisi-puisinya yang melampirkan entitas budaya jawa dalam bentuk isi, atau pemaknaan yang misal saja kita jumpai dalam puisi asmaradana yang berkisah tentang keerangkatan damar wulan yang ditangisi oleh anjasmara, sebuah entitas dari dunia cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat jawa. Maupun dalam puisi goenawan mohammad yang berjudul parikesit yang bercerita tentang raja parikesit yang berada di menara tertinggi untuk menghindari kutukan naga taksaka, sebuah mitos yang diangkat dari dunia wayang yang juga banyak berkembang kini dalam perpuisian indonesia modern, seperti diusung oleh triyanto triwikromo, suminto a. Sayuti, maupun gunawan maryanto.

Sebagai penyair, badruddin emce barangkali ingin menmpilkan warna lokal sebagai sebuah pilihan atas berbagai variasi gaya penulisan puisi yang ada. Namun upayanya yang sebatas terhenti pada bentuk-bukan isi- justru memberi kegamangan bagi pembaca awam- atau tepatnya saya tegaskan bahwa terjadi kesulitan dalam pemaknaan- karena memang perlu kita sadari benar bahwa tidak semua orang mengerti bahasa dan cara bertutur seorang badruddin sebagai seorang anggota dalam masyarakat yang tinggal di daerah pesisir cilacap-dalam hal ini bukan sebagai penyiar-. Misal saja pilihan badruddin untuk menggunakan diksi-diksi dalam bahasa ngapak atau jawa banyumasan dan menggabungkannya dalam frase-frase berbahasa indonesia, tentu ini bukanlah semata menampilkan sebuah sensasi semata-melampirkan entitas lokal dalam puisi- namun lebih kita pahami sebagai cara seorang badruddin dalam bertutur dalam puisi yang barangkali terbawa kebiasaannya bertutur dalam masyarakat di kehidupannya sehari-hari. Lihat contoh berikut

Mata Pulebahas
............
Seperti apa mata Pulebahas
Aku tidak sembrangas yang kau kira.
Kemarilah berhadap-hadapan denganku!

.............

Kita jumpai sebuah diksi dari bahasa ngapak atau jawa banyumasan yaitu “sembrangas”, kata yang barangkali dalam bahasa indonesia memiliki padanan makna dengan kata “serakus”, tapi dalam puisi ini, badruddin lebih memilih menggunakan diksi dalam bahasa ngapak yang meski jelas memiliki padanan kata dalam bahasa indonesia, yang jelas alasan kesulitan menemukan padanan kata tentu tidak dapat kita amini, sebab ini tidak hanya terjadi dalam satu puisi, lihat contoh berikut

Jalan Lingkar Teluk Penyu
............
Menjelma bola, ujungnya thukul angin tenggara
Memperkuat desir makna!

...........

Tentu kita jumpai kembali penggunaan diksi dalam bahasa ngapak yaitu “thukul” yang jelas memiliki padanan makna dalam bahasa indonesia dengan kata “tumbuh”. Sebuah pilihan gaya yang benar dipertahankan oleh seorang badruddin emce sebagai seorang penyair yang sadar benar menulis puisi dengan bahasa indonesia namun menampilkan cara bertutur yang gagap lancar. Sama seperti mendengar ketika orang-orang pesisir cilacap kita ajak bicara dengan bahasa indonesia, tentu diksi dan logat mereka tak akan seratus persen mampu mereka tinggalkan, setidaknya ada yang terbawa dalam ucapan-ucapannya. Namun demikian setidaknya ada sedikit pula yang mampu kita pahami, meski tidak sepenuhnya. Seperti halnya puisi-puisi badruddin emce yang tentu akan menghadapi benturan-benturan dengan para pembaca awam ataupun pembaca-pembaca dari luar kebiasaaan bertuturnya. Sehingga puisi akan mengalami penurunan perannya sebagai media komunikasi antara panyair dengan pembaca.seperti halnya nietsche yang meragukan bahasa untuk mengungkapkan secara memadai segala realitas. Begitu pula kata chairil anwar “dan tetap ada yang tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah”, begitulah peran bahasa kira-kira dalam sebuah puisi, tidak seratus persen benar dapat kita pahami, sebab lahirnya metafor dan gaya bertutur yang variatif tentu melahirkan berbagai pemaknaan maupun interteks dari sebuah puisi. Memang demikianlah puisi. Dan itu pula yang disadari benar oleh badruddin, yang meski tahu tak semua pembaca mampu mengikuti cara bertuturnya, ia tetap saja berdiam diri dan kukuh dengan pilihannya dalam berpuisi, seolah berupaya lepas dari tanggung jawab, atau enggan menjawab.

_, yogya, 2010

Kamis, 29 September 2011

prosa temuan

Bunga Negeri Alhambra
(sebuah prosa temuan bagi Algar Mahesa dan Wahyu Luhana Deviantia)

Syahdan di suatu negeri yang jauh di seberang pulau, dimana burung-burung tak lagi dapat terbang dan ikan-ikan justru hidup di darat. Hiduplah seorang pangeran Alma yang sepanjang hidupnya tak henti mencari pelabuhan hati, seperti halnya Asoka yang selalu haus kuasa pangeran alma setiap hari berjibaku untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di sekitar negerinya, dan tanpa belas kasihan ia menghancurkan benteng-benteng pertahanan lawan dengan pedangnya. Ia adalah seorang panglima perang yang tangguh sekaligus seorang pengatur pemerintahan yang baik di negerinya, sekalipun setiap hari ia berada di medan peperangan ia tak pernah melupakan kesejahteraan rakyat di negerinya. Telah dibangunnya pasar-pasar untuk berjual beli, dibangunnya pula sekolah-sekolah untuk anak-anak, dan satu lagi ia juga membangun pusat kebudayaan di negerinya untuk mempersiapkan catatan sejarah peradaban mereka.
Sekian tahun setelah pemerintahan pangeran Alma, wilayah negerinya semakin luas dan rakyatnyapun semakin sejahtera. Setelah menaklukan kerajaan-kerajaan lain ia tak lantas menjadikan rakyat-rakyat dari kerajaan tersebut sebagai budak, namun ia memperlakukan mereka sama halnya dengan rakyat di negerinya. Membangun pasar dan menyekolahkan anak-anak mereka. Itu semua karena ketulusan dan wibawa seorang pangeran Alma hingga oleh rakyatnya ia dijuluki sebagai pangeran Mahesa Jenar. “aku selalu teringat pesan ibuku untuk selalu mencintai rakyatku melebihi mencintai diriku sendiri” kata pangeran alma.
Pangeran Alma sudah 10 tahun memimpin negeri itu, namun ia tak juga memiliki pendamping hidup yang menjadi permaisurinya. Hidupnya selalu dilanda kesepian dan kegundahan. Bahkan ia sudah kehilangan semangat untuk menaklukan kerajaan-kerajaan lain, setiap senja tiba ia hanya memandangi langit jingga yang pelan-pelan menelan mataharinya. Sang patih Satya Wibawa pun turut iba memikirkan kondisi sang pangeran sekaligus khawatir kalau-kalau imbas dari kegalauan sang pangeran akan sampai pada rakyatnya. Maka ia memberanikan diri untuk menanyakan musabab pangerannya menjadi gundah.
“adakah sesuatu membuat pangeranku menjadi gundah?”
“tidak patihku, aku hanya merasa lelah saja”
“maaf pangeran, bukannya hamba lancang. Tidakkah pangeran membutuhkan seorang pendamping hidup? Untuk menampung segala lelah dan resah”
“barangkali demikian, tapi selama ini aku belum menemukan seorang perempuan yang tepat”
“bagaimana kalau kita membuat sayembara saja untuk mencari perempuan tercantik di negeri ini?”
“apalah gunanya perempuan tercantik patihku, kalau ia tak bisa menampung segala resahku. Aku butuh perempuan seperti Sharazade”
Sang patihpun semakin tak mengerti bagaimana harus membahagiakan sang pengeran, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengajak pangeran Alma berjalan kaki mengelilingi negerinya. Selain untuk melihat-lihat kondisi rakyatnya, ia juga berharap suatu ketika pangeran dapat bertemu seorang perempuan yang dapat membuat pangeran Alma jatuh hati. Di pasar negeri, pangeran Alma mendapat sambutan yang meriah dari rakyatnya bahkan penjual-penjual buah pun menawarkan pada pangeran buah-buah anggur yang bulat-bulat besar, ada juga yang menawarkan manisan-manisan namun pengeran hanya diam saja. di taman negeri, orang-orangpun bergembira menghabiskan hari minggu mereka, namun sang pangeran hanya memandangi kuntum-kuntum bunga yang baru menguncup.
Di sekolah-sekolah yang ia kunjungi, anak-anak kecil begitu riang menciumi tangan sang pangeran, bahkan ada yang memberinya sebuah lukisan. Namun perhatian pangeran Alma justru tertuju pada seorang guru perempuan di sekolah tersebut, ketika ia datang guru itu sama sekali tak menghiraukan pangeran Alma. Ia malahan begitu asik mendongeng di hadapan murid-muridnya yang membuat sang patih marah dan menegurnya.
“hey, apakah menurutmu seorang guru memiliki derajat lebih dari seorang pangeran?”
“apalah gunanya pangeran yang hanya bisa menghancurkan kerajaan-kerajaan kecil?”
“lancang sekali kau” patih Satya Wibawa mencabut pedangnya dan bersiap menebas leher perempuan tersebut
“tunggu!” teriak pangeran menghentikan sang patih
“kenapa pangeran? Ia telah lancang menghina pangeran?”
“ia benar patihku, seorang pangeran tak ada apa-apanya dibanding seorang guru. Ia bisa mencerdaskan rakyatku”
Berharap mendapat respon baik dari guru perempuan tersebut, sang pangeran justru tak habis pikir mengapa si perempuan justru ngeloyor pergi meninggalkan sekolah tersebut. Sang pengeran kembali ke istana dan hingga berhari-hari ia tak dapat tidur memikirkan perempuan tersebut. Setiap malam selalu terngiang bagaimana perempuan tersebut mengucapkan kata pangeran. Ia baru sadar bahwa perempuan tersebut tak demikian lancar mengucap kata yang memiliki huruf “r”, ya perempuan itu ternyata cadel. Maka ia memerintahkan pada patihnya untuk mencari perempuan tersebut dan membawanya ke istana. Setiap perempuan cadel di negeri tersebut telah didatangkan ke istana, tapi tak ada diantaranya guru perempuan tersebut. Segala bentuk pencarian tak membuahkan hasil. Hingga sang pangeran turun tangan sendiri untuk mencari perempuan tersebut ke sebuah pasar, dan tiba-tiba ia mendengar seorang pembeli di sebuah kios buah.
“tuan aku ingin membeli wokhrtel ini”
Sang pengeran terkejut dan langsung memburu perempuan itu, namun teryata perempuan itu lebih cepat bergegas pergi. Sang pangeran mengejarnya bersama para prajurit pengawalnya hingga perempuan itu memasuki sebuah rumah yang sudah demikian rusak. Sang pangeran pun mencoba masuk, namun pintu itu telah terkunci. Dan seorang prajurit menendangnya hingga terbuka. Di dalamnya ada seorang lelaki tua yang tengah terbaring di ranjang. Dan perempuan itu bersembunyi di dapur. Mata pangeran terbelalak melihat lelaki tua yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
“ra..ra..ja.. Alhambra?”
Perempuan itu keluar dari persembunyiannya dengan membawa sebuah pisau “jangan kau bunuh ayahku! Apa kau belum puas telah menghancurkan kerajaan kami?”
“aku tak bermaksud membunuhnya, ja..ja..di kau adalah putri dari kerajaan Alhambra??”
“ya, aku adalah putri dari kerajaan yang telah kau hancurkan”
Ternyata sang pangeran telah lalai ketika dahulu ia menaklukan sekian banyak kerajaan. Ia tak pernah berpikir bahwa kerajaan yang ditaklukannya adalah kerajaan yang damai, yang akhirnya kini justru merubah kehidupan rakyatnya. Bahkan seorang putri raja yang dulu kaya, kini harus mengabdikan diri menjadi seorang guru di sebuah sekolah dan tinggal di rumah yang hampir roboh. Sang pangeran berlutut menyadari kesalahannya.
“maafkan aku tuan putri”
“tak semudah itu pangeran, tidakkah kau melihat ayahku yang telah sakit-sakitan ini? Ciumlah kakinya terlebih dahulu, dan kembalikan apa yang jadi hak kami”
“baiklah, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku begitu mencintaimu”
Setelah kembali ke istana, akhirnya sang pangeran memutuskan untuk melepaskan kembali kerajaan-kerajaan yang pernah ditaklukannya termasuk kerajaan Alhambra. Kemudian ia datang ke kerajaan alhambra untuk meminang putri Alhambra yang jelita. Namun sang putri mengajukan syarat
“tak semudah itu kau dapat meminangku”
“aku bersedia melakukan apapun demi menunjukkan cintaku padamu”
“buatkan aku sebuah sajak yang dapat menyentuh hatiku dan rakyat-rakyatku!”
“baiklah, tapi beri aku waktu 3 minggu. Maka akan kuselesaikan sebuah sajak untukmu, cintaku”
Sang pangeranpun kembali ke istana dan memerintahkan pada patihnya untuk mengumpulkan seluruh penyair yang ada di negerinya untuk mengajarinya menulis sebuah sajak, dua minggu berlalu namun di negeri tersebut ia tak mendapat seorangpun penyair yang berbakat. Ia teringat pada seorang sahabatnya sewaktu kecil yang pergi mengembara ke negeri Yajna Jiva untuk mempelajari seni falsafah hidup. Maka sang pangeranpun menyusulnya dan meminta untuk mengajarinya menulis sebuah sajak. Selama seminggu penuh sang pangeran berkutat dengan buku di negeri Yajna Jiva hingga akhirnya ia berhasil menulis sebuah kalimat, sebuah kalimat saja bukan sebuah sajak. Dengan semangat yang mengendur, ia kembali mendatangi kerajaan alhambra untuk menemui tuan putri.
“tuan putri, maafkan aku yang tak dapat menepati janjiku.”
“apa maksudmu?” putri cadel cemberut
“aku gagal menyelesaikan sebuah sajak, hanya sebuah kalimat saja yang berhasil kutuliskan”
Tuan putri nampak sedih. Namun di sisinya sang raja Alhambra menyuruh sang pangeran membacakannya.
“bacakanlah pangeran, barangkali kau telah berhasil menulis satu kalimat yang mendalam”
“terima kasih raja, aku akan membacakannya segera” sang putri nampak kembali bersemangat ketika patih menyerakhan sebuah gulungan kertas pada sang pangeran. Kertas itu bertuliskan “kuncup bunga teratai takkan sanggup menggapai bulan, kecuali pada pantulannya di permukaan kolam”
“putriku, apa menerima pinangan sang pangeran?” tanya raja Alhambra
Sang putri tersenyum, terharu “baginda tentu tahu jawaban hamba”

Yogyakarta, 28 september 2011

seri puisi gila #13

Sajak Kolase

Seribu teguk racun milik romeo
Takkan sanggup membunuh bayangmu
Yang telah masuk dalam persistence of memory
Dan memutar jarum jam menuju masa lalu
Dimana segala ingatan leleh dan lumat.

Tubuh-tubuh telanjangmu, yang sintal yang
Telah kulemparkan pada kanvas les demoiselles d’avignon
Masih merajai mimpi-mimpiku
Pada setiap jalan-jalan
Pada setiap gang-gang
Yang sempit yang digerogoti tikus-tikus.

Malam di kotaku cuma bisa membuat lukisan-lukisan itu berbicara,
Jadi sepasang mata yang menangisi kepergianMu

Yogyakarta, 5 September 2011

seri puisi gila #12 (sajak cinta terkahir buat cecelia)

pelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar negeri
buat cecelia a. puspita

pada suatu hari, di sebuah sekolah dasar negeri

guru kencing berdiri
murid kencing berlari

lalu di jalanan, siswa dan siswi saling bergandengan

kalau guru kawin berdiri
berarti murid harus kawin lari

(capek deh!!!)

yogyakarta, 18 juni 2011

ritus kematian*

-rara sinta

kalau aku mati besok
kuburkan aku
di pekarangan
rumahku sendiri,

rumah yang kubangun
dari batubatu
dari katakata
yang kugali
dari segunungan makna

yogya, 2009-2011

*on progress

kafetaria senja

Kepada Uwik Nur Wijayanti

Segeralah pulang,
sebelum senja benar-benar lindap dari pandangan.
Sebelum kafetaria ini benar-benar sepi dan sunyi.
Dan kau tinggal sendiri tanpa bisa mendengar apapun
Tidak suara-suara pelanggan memanggil pelayan
Tidak juga suara-suara cangkir dan sendok yang saling beradu pandang
Juga dingin es krim dan panasnya kopi

Tentu kau tak ingin melewatkan senja ini sendiri
Sendiri tanpa bertemu dengan siapapun
Juga tanpa sedikitpun perbincangan sekedar mengisi waktu luang
Seperti daun-daun di luar sana yang rindukan desau angin
Seperti halnya sebuah sapa atau salam perkenalan

Di kafetaria ini
Kau masih bertahan pada sebuah meja yang telah sigap menata diri
Sebuah piring dan sepasang pisau dan garpu saling berdampingan
Di atas alas terbungkus selembar tissue seolah ingin menawarkan padamu
Daftar menu makan malam
Tanpa pernah sedikitpun akan kau jumpai senyum ramah pelayan
Atau tawa riang para chef di dapur kafetaria ini

Kau hanya akan merasakan getar bunga-bunga lily dalam vas
Getar bunga-bunga cantik yang terlepas dari tangkainya.
Dan kini terkungkung sendiri dalam vas keramik di atas meja kafetaria ini
Menemani santap malammu sendiri.

Yogyakarta, 30 november 2010